PERTEMUAN KE 1
  1. Pengenalan Mata Kuliah
  2. Membahas materi perkuliah Selama 16 kali pertemuan
  3. Membuat prosedur perkuliah yang disepakati antara Dosen dan Mahasiswa
  4.  Manfaat dan Tujuan Mempelajari Morfologi, Konsep Dasar Morfologi, Hubungan Morfologi dengan Ilmu Lain

Dalam perkuliahan ini dibahas hakikat menulis, karakteristik tulisan, jenis-jenis tulisan, langkah-langkah menulis, penulisan paragraf, penalaran dalam tulisan, menulis karya ilmiah, komunikasi tulis (surat-menyurat), iklan, tata istilah, dan menulis dengan emosi. Mata kuliah ini merupakan prasyarat untuk mata kuliah Pembelajaran Menulis. Apabila mahasiswa mengambil pilihan mata kuliah ini,maka sifatnya merupakan prerekuisit (prasyarat) dalam mengambil mata kuliah Pembelajaran Menulis. Mata kuliah ini di samping memberikan bekal pengetahuan dan pemahaman dasar-dasar menulis, para mahasiswa juga diberi bekal praktik yang memadai dalam menulis. Dengan demikian, mata kuliah ini juga termasuk ke dalam kategori mata kuliah yang berpraktikum. Adapun bobot kreditnya adalah 2 SKS.

Mata kuliah ini membahas semua hal yang terkait dengan entrepreurship literasi bahasa 2. Mulai dari sejarah perkembangan huruf, abjad, dan alfabet  hingga latar belakang munculnya profesi penyunting, tentang profesi editor berikut tugas-tugasnya. Mata kuliah ini pun sangat erat kaitannya dengan ilmu kebahasaan. Mata kuliah entrepreneur literasi bahasa 2 banyak membahas tentang aspek-aspek editing naskah yang berupa kebenaran data, fakta, legalitas, dan kesopanan. Pembahasan anatomi yang sebelumnya berpusat pada naskah, di  literasi 2 ini sudah berfokus pada anatomi buku. Beberapa istilah editologi yang selama ini tidak banyak diketahui masyarakat luas, mulai diperkenalkan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa mendapatkan pemahaman yang benar. Mengenai hak cipta yang tidak boleh disalahgunakan oleh penulis dan penerbit, pada mata kulaih ini pun dijelaskan tentang maca-macam jenis royalti. Pekerjaan penyunting naskah tida bisa lepas dari aspek kebahasaan sehingga penyunting pun dituntut untuk dapat memlilih kata dengan cerdas.


Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa, mempersoalkan hubungan antar kata dengan satuan-satuan yang lebih besar dalam suatu konstruksi yang disebut kalimat. Zaenal Arifin (2015: 60) mengemukakan bahwa sintaksis adalah cabang lingustik yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat. Susunan kata itu harus linier, tertib dan tentu harus bermakna. Sementara itu A. Chaer (2015: 19) menyatakan bahwa sintaksis menguraikan atau menganalisis sebuah satuan bahasa yang dianggap “paling besar” yaitu kalimat, diuraikan atas klausa-klausa yang membentuk kalimat itu. Lalu klausa diuraikan atas frasa-frasa yang membentuk klausa itu; dan frasa diuraikan atas kata-kata yang membentuk frasa itu. Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa di atas kalimat masih terdapat unsur lainnya yaitu wacana.